Malam Ajaib di Lingkar Arktik: Bodø/Glimt Hancurkan Manchester City 3-1, Krisis The Citizens Semakin Dalam
BODØ, NORWEGIA – Sejarah baru terukir di Aspmyra Stadion pada Selasa malam (Rabu dini hari WIB), ketika juara bertahan Liga Inggris, Manchester City, tersungkur di hadapan klub Norwegia, Bodø/Glimt. Dalam laga lanjutan fase liga Liga Champions UEFA 2025/2026 yang penuh drama, The Citizens dipaksa menyerah dengan skor telak 3-1. Kekalahan ini tidak hanya menjadi pukulan telak bagi pasukan Pep Guardiola, tetapi juga menandai kemenangan pertama Bodø/Glimt di panggung utama kompetisi antarklub paling elit di Eropa.
Bermain di bawah suhu membeku Lingkar Arktik dan di atas rumput sintetis yang licin, Manchester City datang dengan kondisi skuad yang pincang. Badai cedera memaksa Guardiola melakukan rotasi besar-besaran, namun tak ada yang menyangka raksasa Inggris itu akan didikte oleh tim yang nilai skuadnya jauh di bawah harga satu pemain bintang City.
Mimpi Buruk di Babak Pertama
Sejak peluit awal dibunyikan, tuan rumah Bodø/Glimt tampil tanpa rasa takut. Alih-alih bertahan total menghadapi dominasi penguasaan bola City, tim asuhan Kjetil Knutsen justru menerapkan pressing tinggi yang agresif. Strategi ini membuahkan hasil manis di pertengahan babak pertama.
Petaka bagi City bermula di menit ke-22. Sebuah kesalahan fatal di lini belakang City dimanfaatkan dengan sempurna oleh Ole Didrik Blomberg yang mengirimkan umpan silang akurat. Kasper Høgh, penyerang andalan tuan rumah, berdiri bebas tanpa kawalan berarti dan menanduk bola masuk ke gawang Gianluigi Donnarumma. Aspmyra Stadion bergemuruh menyambut gol pembuka yang mengejutkan tersebut.
Belum sempat City menata kembali barisan pertahanannya, gawang mereka kembali bobol hanya dua menit berselang. Tepat di menit ke-24, lagi-lagi Kasper Høgh menjadi momok menakutkan. Melalui skema serangan balik cepat yang membelah pertahanan City, Høgh melepaskan tembakan mendatar yang gagal diantisipasi Donnarumma. Skor 2-0 untuk keunggulan Bodø/Glimt bertahan hingga turun minum, meninggalkan wajah-wajah tak percaya di bangku cadangan tim tamu.
Kartu Merah Rodri dan Gol Spektakuler Hauge
Memasuki babak kedua, Guardiola mencoba menginstruksikan anak asuhnya untuk bermain lebih tenang. Namun, momentum justru tetap berada di tangan tuan rumah. Pada menit ke-58, Jens Petter Hauge—mantan pemain AC Milan yang kini menjadi tumpuan Bodø/Glimt—mencetak gol yang mungkin akan menjadi salah satu kandidat gol terbaik turnamen musim ini. Tembakan lengkung indahnya dari luar kotak penalti meluncur deras ke pojok atas gawang, membuat City tertinggal semakin jauh, 3-0.
Harapan sempat muncul bagi The Sky Blues ketika pemain muda berbakat, Rayan Cherki, berhasil memperkecil ketertinggalan menjadi 3-1 pada menit ke-60 melalui aksi individu yang ciamik. Gol ini seolah menjadi sinyal kebangkitan bagi tim tamu.
Namun, segala asa untuk comeback musnah hanya dua menit kemudian. Gelandang andalan sekaligus kandidat Ballon d'Or, Rodri, melakukan tindakan tidak terpuji. Pemain asal Spanyol itu menerima kartu kuning kedua yang berujung kartu merah setelah melakukan pelanggaran keras, membiarkan rekan-rekannya bertarung dengan 10 pemain di sisa laga. Kehilangan jenderal lapangan tengah membuat City kehilangan kendali permainan sepenuhnya.
Reaksi Guardiola dan Haaland yang Frustrasi
Kekalahan ini memperpanjang tren negatif Manchester City yang kini gagal menang dalam lima pertandingan terakhir di semua kompetisi. Usai laga, Pep Guardiola tidak dapat menyembunyikan kekecewaannya.
"Segalanya terasa salah saat ini," ujar Guardiola dalam konferensi pers pasca-laga. "Kami membuat kesalahan-kesalahan elementer yang tidak bisa ditoleransi di level ini. Bodø bermain dengan hati dan intensitas yang luar biasa, sementara kami kesulitan beradaptasi dengan kondisi lapangan dan transisi cepat mereka. Kami harus segera mengubah dinamika ini sebelum musim kami benar-benar hancur."
Sorotan tajam juga tertuju pada Erling Haaland. Kembali ke tanah kelahirannya, Norwegia, striker haus gol itu justru tampil mlempem. Ia terisolasi di lini depan dan gagal memberikan ancaman berarti sepanjang 90 menit. Dalam wawancara singkat di mixed zone, Haaland bahkan menyebut performa timnya sebagai sesuatu yang "memalukan" dan meminta maaf kepada para suporter yang telah jauh-jauh datang ke Kutub Utara.
Implikasi Bagi Kedua Tim
Bagi Bodø/Glimt, kemenangan ini adalah dongeng yang menjadi nyata. Mengalahkan tim sekelas Manchester City bukan hanya soal tiga poin, tetapi pembuktian bahwa sepak bola Norwegia mampu bersaing di level tertinggi. Kemenangan ini juga menghidupkan kembali asa mereka untuk lolos ke babak play-off fase gugur.
Sebaliknya bagi City, hasil ini adalah lampu merah yang menyala terang. Dengan badai cedera yang belum mereda dan moral tim yang sedang merosot tajam, posisi mereka untuk lolos otomatis ke babak 16 besar kini terancam. Guardiola memiliki pekerjaan rumah yang sangat berat untuk mengembalikan mentalitas juara pasukannya sebelum mereka menghadapi laga krusial berikutnya di Liga Premier Inggris akhir pekan nanti.
Malam di Bodø mungkin dingin dan gelap, namun bagi ribuan pendukung tuan rumah yang memadati stadion, ini adalah malam paling cerah dalam sejarah klub mereka. Sementara bagi Manchester City, dinginnya malam itu akan terasa menusuk hingga ke tulang, sebagai pengingat pahit bahwa di Liga Champions, nama besar saja tidak pernah cukup untuk menjamin kemenangan.