San Siro Takluk: Brace Gabriel Jesus dan Sengatan Gyokeres Sempurnakan Rekor 100% Arsenal
MILAN – Arsenal kembali menegaskan status mereka sebagai raksasa Eropa musim ini. Dalam lawatan berat ke Giuseppe Meazza pada Rabu (21/1/2026) dini hari WIB, The Gunners sukses membungkam tuan rumah Inter Milan dengan skor meyakinkan 3-1. Kemenangan ini tidak hanya menjadi revans manis atas kekalahan mereka di tempat yang sama musim lalu, tetapi juga memastikan pasukan Mikel Arteta menyapu bersih tujuh pertandingan fase liga Liga Champions dengan kemenangan—sebuah rekor 100% yang belum terpatahkan.
Gabriel Jesus menjadi protagonis utama malam itu dengan mencetak dua gol krusial di babak pertama, sebelum pemain pengganti Viktor Gyokeres mematikan harapan Nerazzurri lewat gol spektakuler di menit-menit akhir.
Awal Laga yang Menghentak
Mikel Arteta membuat kejutan dalam susunan pemainnya dengan melakukan rotasi berani. Absennya beberapa pilar membuat manajer asal Spanyol itu mempercayakan lini belakang kepada duo muda Cristhian Mosquera dan Myles Lewis-Skelly, mendampingi William Saliba dan Jurrien Timber. Di lini tengah, rekrutan anyar Eberechi Eze dipercaya tampil sejak menit awal bersama Mikel Merino dan Martin Zubimendi.
Keputusan ini terbayar lunas hanya dalam sepuluh menit pertama. Arsenal, yang tidak terlihat canggung bermain di hadapan puluhan ribu Interisti, langsung menekan. Berawal dari pergerakan Jurrien Timber yang merangsak ke depan, tembakannya membentur pertahanan lawan dan jatuh tepat di jalur Gabriel Jesus. Tanpa ampun, penyerang asal Brasil itu menyambar bola untuk menaklukkan Yann Sommer. 1-0 untuk Arsenal.
Namun, Inter Milan bukan tanpa perlawanan. Delapan menit berselang, anak asuh Cristian Chivu merespons. Gelandang muda Kroasia, Petar Sucic, yang dipasang menggantikan Hakan Calhanoglu, melepaskan tembakan jarak jauh yang tak mampu dijangkau David Raya, menyamakan kedudukan menjadi 1-1. Gol ini sempat membakar semangat tuan rumah untuk mengambil alih kendali permainan.
Dominasi Bola Mati dan Emosi Jesus
Di tengah tekanan Inter yang mulai menguasai ball possession (tercatat Inter unggul tipis 51,4% penguasaan bola sepanjang laga), Arsenal kembali menunjukkan efektivitas mereka dalam situasi bola mati. Pada menit ke-31, sebuah skema sepak pojok yang dieksekusi Bukayo Saka menciptakan kemelut. Sundulan Leandro Trossard sempat membentur mistar, namun insting pembunuh Jesus kembali berbicara. Ia berada di posisi yang tepat untuk mencocor bola rebound, mengembalikan keunggulan tim tamu menjadi 2-1.
Momen emosional terlihat jelas pada diri Jesus. Pemain yang sempat diragukan masa depannya itu tampak meneteskan air mata saat merayakan gol keduanya, seolah melepaskan beban berat yang ia pikul sepanjang musim ini di tengah persaingan ketat lini depan.
Babak Kedua: Taktik Bertahan dan "Kill The Game"
Memasuki babak kedua, Inter Milan tampil lebih agresif. Dimarco dan Thuram beberapa kali merepotkan sisi kanan pertahanan Arsenal yang dijaga Timber. David Raya dipaksa melakukan penyelamatan gemilang untuk menghalau tembakan keras Federico Dimarco yang mengarah ke pojok gawang.
Soliditas duet bek tengah Saliba dan Mosquera patut diacungi jempol. Mereka berhasil meredam Lautaro Martinez yang tampak terisolasi sepanjang laga. Statistik mencatat Arsenal kalah dalam jumlah tembakan (14 berbanding 15 milik Inter), namun The Gunners jauh lebih klinis dalam memanfaatkan peluang.
Saat Inter asyik menyerang demi mencari gol penyeimbang, Mikel Arteta memasukkan "senjata rahasia"-nya, Viktor Gyokeres, menggantikan Jesus yang kelelahan. Pergantian ini terbukti jenius. Pada menit ke-84, melalui sebuah skema serangan balik cepat, Gyokeres menerima bola di luar kotak penalti. Dengan tenang, ia melepaskan tembakan melengkung akurat ke pojok atas gawang yang membuat Sommer hanya bisa terpana. Skor berubah 3-1 dan praktis mengakhiri perlawanan tuan rumah.
Implikasi Klasemen
Wasit Joao Pinheiro meniup peluit panjang, menandai kemenangan bersejarah bagi Arsenal. Dengan hasil ini, Arsenal kokoh di puncak klasemen fase liga Liga Champions dengan 21 poin sempurna dari 7 laga, memastikan tiket otomatis ke babak 16 besar dengan status unggulan utama.
Sebaliknya bagi Inter Milan, kekalahan ini menjadi pukulan telak. Nerazzurri harus terlempar ke posisi ke-9 dengan 12 poin, yang artinya mereka kini berada di zona playoff dan kehilangan hak istimewa lolos otomatis. Pasukan Cristian Chivu kini wajib menang di laga terakhir sambil berharap hasil tim lain memihak mereka untuk bisa kembali ke 8 besar.
"Kami datang ke sini musim lalu dan kalah. Malam ini kami menunjukkan karakter yang berbeda. Bermain di San Siro tidak pernah mudah, tapi keberanian para pemain muda dan ketajaman lini depan menjadi pembeda," ujar Arteta dalam konferensi pers pasca-laga.
Kemenangan ini menjadi sinyal bahaya bagi seluruh kompetitor di Eropa: Arsenal tidak hanya kuat di Inggris, tetapi kini mereka telah menaklukkan salah satu stadion paling keramat di benua biru dengan gaya yang meyakinkan.